Beasiswa Bazma Pertamina

SAAT IMPIAN SUDAH DIDEPAN MATA
            Siapa saya bagi keluarga? Pertanyaan ini selalu membuat saya bingung. Memang secara biologis saya adalah anak dari kedua orangtua saya dan adik bagi kakak-kakak saya. Selama 19 tahun ini saya selalu menghafalkan kalimat tersebut dalam pikiran saya. Lalu, sebenarnya saya itu siapa? Betul, saya memang seorang anak dari orangtua saya dan adik bagi kakak saya. Hal ini memang klise, tapi itu fakta dan kebenarannya. Fakta tersebut membuat saya berpikir bahwa menjadi anak dan adik bagi keluarga, saya harus memberikan yang terbaik dan menjadi orang yang sukses dikemudian hari.
            Sejak dulu saya dididik oleh orangtua untuk menjadi anak yang baik, cinta lingkungan dan selalu bersyukur. Semangat kedua orangtua saya dalam mendidik dan membesarkan anak-anaknya tidak pernah luntur. Bahkan hingga saat saya berumur 19 tahun sekarang pun kedua orangtua saya selalu memberi semangat, doa dan dukungannya, baik itu secara fisik atau batin. Dukungan dan doa yang begitu besar tiada tara itu, saya kumpulkan dan menjadi bahan bakar untuk menjalani kehidupan saya menjadi mahasiswa saat ini.
            Pada saat saya duduk dibangku sekolah dasar, saya mengikuti sekolah agama yang dilaksanakan pada siang hingga sore hari. Masih saya ingat, dan akan terus saya ingat sat itu terjadi hujan lebat. Hujan lebat tersebut turun saat saya akan berangkat ke sekolah agama. Sangat deras, dan rintikannya pun begitu besar. Saya meminta pendapat pada ibu saya, apakah saya harus berangkat ke sekolah atau tidak. Ibu saya menjawab, kurang lebihnya seperti ini, “Gimana Neng saja, kalau mau berangkat pakai payung sama jas hujan. Kalau tidak juga tidak apa-apa, besok lagi.” Setelah Ibu saya berkata seperti itu, saya putuskan untuk berangkat ke sekolah. Ya, saya berangkat ke sekolah agama saat hujan turun dengan derasnya membasahi bumi, saya melewati itu semua. Saya memakai jas hujan milik ayah dan payung milik ibu. Sungguh, perjuangan saya saat kecil untuk sekolah agama sangat besar.
            Alasan saya untuk memaksakan tetap berangkat sekolah adalah saya tidak mau tertinggal dalam pelajaran. Mungkin, jika saya benar saya tidak pernah membolos saat masa sekolah dari TK hingga SMA, kecuali jika saya sakit dan ada keperluan keluarga. Perjuangan itu saya teruskan hingga kuliah. Saat saya duduk dibangku sekolah menengah atas saya putuskan untuk melanjutkan kuliah dengan saran dari orangtua. Pada saat itu saya ingin berkuliah di jurusan Psikologi, namun kedua orangtua saya tidak mengizinkan saya kuliah di jurusan tersebut. Kedua orangtua saya membebaskan pilihan kepada saya, tidak pernah ada paksaan, tetapi hanya saran dan larangan kecil. Akhirnya saat SNMPTN dibuka saya memilih UPI untuk meneruskan pendidikan saya. Jujur, menjadi salah satu mahasiswa di Universitas Pendidikan Indonesia ini adalah impian saya sejak duduk di kelas 11 SMA. Saat itu saya memiliki impian untuk menjadi guru seni rupa. Impian tersebut sangat kuat manakala saya saat itu melewati kampus UPI setelah selesai melaksanakan lomba FLSN di Lembang. Mobil yang saya tumpangi bersama rekan dan guru melaju, melewati pintu gerbang utama, yang bertuliskan “UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA”. Deg, jantung saya berdetak sangat kencang saat itu juga. Dan langsung saya putuskan bahwa saya akan menjadi salah satu mahasiswa di kampus itu. Dan Alhamdulillah saya bisa menjadi salah satu mahasiswa di Universitas Pendidikan Indonesia pada tahun 2017, meskipun tidak mendapatkan jurusan Seni Rupa. Dan inysaAllah saya akan lulus tahun 2021, saya harus yakin bisa melewati sisa waktu kuliah di kampus ini. Saya akan memanfaatkan waktu saya dengan baik. Agar saya bisa menjadi orang yang berhasil dan dapat bermanfaat bagi banyak orang terutama keluarga.     
            Pendidikan adalah salah satu cara untuk meraih kesuksesan. Kalimat tersebut sangat benar adanya, dan saya memilih jalan ini untuk membantu menggapai impian dan cita-cita saya. Guna menjadi seseorang yang sukses, dan bisa bermanfaat untuk banyak orang terutama keluarga. 
            Hingga detik ini, saya sudah melewati berbagai kejadian-kejadian dalam hidup. Semua itu akan menjadi pengalaman yang berharga yang akan membuat saya menjadi pribadi yang lebih baik. Ayah, ibu, betapa banyak kasih sayang yang kalian berikan pada saya. Saya berjanji akan menjadi sesorang yang sukses, yang akan mengangkat derajat kedua orangtua saya sekaligus keluarga saya, bahkan Indonesia. Saya memiliki impian, saya akan menjadi orang yang suskes dan akan memberi manfaat untuk banyak orang. Indonesia, dengarkan mimpi saya dan tolong nantikan saya dalam waktu dekat. 

Komentar